Aku, seorang manusia.
Menikmati secangkir wedhang jahe di pagi hari, ditemani gorengan yang aku beli kemarin sore dari warung Mbok Darmi. Gorengannya anti basi, bisa tahan meski sudah berganti hari. Ya ini cemilan Negara yang patut dilestarikan—dan memang masih lestari sampai sekarang! Makanan disaat kantong lagi kere. Penambal perut lapar dikala sembako—lagi-lagi—naik.
Tiba-tiba bau busuk menyergap, membuat selera nyemilku musnah. Apa ini? Penasaran, ku jelajahi tiap sudut istana gedhekku yang mungil nun asri. Iya toh? Bagaimana juga enak punya rumah sendiri, meski kecil dan sederhana, tapi berguna. Lah daripada rumah bapak-ibu petinggi Negara? Gedong-gedong, tapi masih banyak yang mempertanyakan darimana uang untuk membelinya. Apa uang kita, rakyat kecil yang rumahnya juga kecil-kecil ini? Hush, jangan su’udzon!
Aku jadi ingat berita di tv minggu kemarin, yang kadang masih dibahas juga sampai sekarang—yang sampai geram dan bosan aku melihatnya. Tentang pejabat Negara kita yang kini banyak di ekspos rumah dan hartanya. Bukan dalam acara bedah rumah atau semacamnya, tapi dalam berita acara penyidikan oleh KPK. Tentang wakil rakyat yang kalau rapat sampai gebrak-gebrak meja, saling bentak, saling melotot, saling-saling lah pokoknya! Aku yang melihatnya sampai malu. Begini toh petinggi Negara kita yang terhormat, yang katanya sudah S1, S2, S3, S-Oyen. Kalah sama anak SMA yang pintar debat ‘dengan terhormat’.
Nah ini! Akhirnya ketemu sumber busuknya.
Tikus mati!
Hiii… jijik!
Nasibmu malang, Kus! Banyak orang jijik lihat dirimu—apalagi kalau sudah jadi mayat begini! Tapi yang lebih malang adalah kamu sebagai ikon para koruptor. Lah? Kamu kecewa, atau malah bangga? Kan lumayan, namamu jadi lebih terkenal. Naik level dari hewan pengerat kotor dan menjijikan, menjadi ikon manusia yang bermain kotor dan menjijikan.
Ya sudahlah, Kus terima saja. Mending kamu disamakan dengan manusia, daripada manusia tapi sama dengan hewan! Enak mana, hayo? Yang nggak enak tuh sebagai ‘manusia’-nya, rakyat kecilnya! Nggak ikut korupsi, tapi kena getahnya. Harga serba naik, subsidi lari entah kemana, makan juga susah. Atau begini saja! Para koruptor itu ‘diracun’, biar nasibnya sama juga seperti kamu!
Eeeh, kok jadi ngomong ngawur? Mending ambil kresek atau apalah untuk membungkusmu, Kus. Terus dihanyutkan saja ke kali. Beres! Daripada nyumpahin orang-orang yang kenal saja enggak, petinggi negara—yang ngakunya—menyerukan aspirasi rakyat, memahami kondisi rakyat. Tapi nyatanya? Malah menyusahkan, dengan makan uang-uang rakyat!
Mau nyemil gorengan lagi, sudah tidak ada nafsu. Dibuang sajalah. Tapi memang enak menikmati pagi sambil nyeruput wedhang jahe. Melamun, seolah tidak ada beban pikiran, mau makan apa besok? Kalau orang ‘gede’ caranya beda lagi. Melamunnya bukan di teras rumah yang halaman depannya kecil sekali—contohnya punyaku, tapi di halaman hijau yang hampir seluas lapangan golf. Mikirnya pun bukan tentang ‘mau makan apa besok?’, tapi ‘apa giliranku yang dipanggil KPK besok?’. Ada-ada saja otakku ini!
Loh-loh? Itu!
Baru saja ada tikus lari. Wah, berani betul. Nggak permisi, main nyelonong saja! Ditangkap kucing baru tahu rasa kamu, Kus! Tapi, kucing tidak bagus-bagus juga. Meski kadang membantu untuk menangkap tikus-tikus nakal, tapi kadang ikan asin yang biasa aku taruh di meja makan juga diembat kucing. Sama toh, sebenarnya?
Kucing yang kelihatannya membantu sebagai musuh tikus-tikus, tidak selalu suci juga. Kucing tetap kucing, nalurinya kalau ada ikan asin nganggur di meja makan, ya dicaplok juga. Sama seperti anggota KPK. Apa dengan julukan itu, lantas bersih juga dari korupsi? Ah, tidak yakin! Rakyat itu manusia, Koruptor juga manusia, anggota KPK? Manusia juga! Tidak ada yang suci!
Bahkan anak SD saja sudah bakat jadi koruptor. Aku pernah lihat berita tentang sekolah SD yang terkena kasus gara-gara ada seorang siswanya yang melapor ke ibunya, lantas ibunya lapor ke polisi. Kalau tidak salah itu tentang contek masal.
Yang aku herankan, kenapa keluarga pelapor malah dikucilkan oleh pihak sekolah dan warga kampungnya? Apa salah? Rakyat ini memang serba repot. Ada yang mengungkapkan kebenaran hal sekecil itu saja sudah ricuh. Tapi kalau sudah dicurangi oleh tikus-tikus berdasi? Ya ricuh juga! Repot, toh?
Sekecil apapun, kebenaran harus ditegakkan! Perihal contek itu pun juga tidak ada bedanya dengan korupsi. Hanya saja beda level.
Ah, sudah. Sudah!
Aku, juga manusia.
Pernah juga aku korupsi. Suatu ketika aku membayar seharga empat gorengan milik Mbok Dharmi dari lima gorengan yang aku ambil. Sssstt…!
Manusia itu memang tempat salah dan dosa. Kesucian dan kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. Tapi apa iya, sudah tahu dosa masih saja dilakukan? Tobat… Tobat…
Malang, di suatu malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar