Call Us : ( +62 ) 877 544 21256, vtea_listafa (line)
Senin - Sabtu : 10.00 - 22.00

Guru Juga Manusia

Guru memegang peranan yang sangat penting terutama dalam mengembangkan potensi serta membentuk watak bangsa. Selain itu guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Guru yang profesional diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Begitu pentingnya peranan guru dalam keberhasilan peserta didik maka hendaknya guru mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan yang ada dan meningkatkan kompetensinya sebab guru pada saat ini bukan saja sebagai pengajar tetapi juga sebagai pengelola proses belajar mengajar.
Beberapa tahun bahkan puluhan tahun yang lalu, profesi guru hanya menjadi cita-cita sebagian kecil orang saja. Namun sekarang tidak sedikit orang yang menginginkan profesi mulia tersebut. Faktornya bisa karena kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan demi kemajuan bangsa atau bahkan karena gaji guru yang menggiurkan.
Di Indonesia, masalah gaji guru selalu jadi problem dasar yang dianggap mempengaruhi kualitas pendidikan kita. Banyaknya kasus penyunatan gaji guru sering dicap sebagai hal yang membuat guru makin menderita, dan akhirnya muridnya pun terlantarkan sehingga kualitas pendidikan di negara kita terus menurun.
Besar atau kecil gaji guru seharusnya tidak mempengaruhi arti dan peran guru itu sendiri terhadap dunia pendidikan. Namun pada kenyataannya tidak sedikit pula guru yang berpenghasilan sedikit bahkan jauh di bawah upah minimum regional (UMR).
Guru dengan pendapatan rendah tersebut paling banyak dialami oleh guru honorer. Guru honorer yang diangkat oleh pemerintah dengan dana APBN disebut guru bantu. Dan yang mengenaskan adalah nasib guru honorer yang diangkat oleh kepala sekolah atau komite sekolah. Para guru ini mendapat honor  Rp 50.000 – Rp 500.000 per bulan yang bersumber dari dana bantuan operasional sekolah (BOS), bahkan ada yang di gaji per jam mata pelajaran.
Seiring dengan otonomi daerah, pemerintah kabupaten atau kota ikut mengangkat guru berstatus guru honorer daerah, dimana ada pula elite lokal yang diangkat menjadi tenaga honorer tanpa seleksi yang memadai, kemudian ditempatkan menjadi guru. Di sisi lain adanya pengangkatan guru honorer karena kekurangan tenaga pengajar di bidang spesifik.
Namun diantara guru honorer ‘titipan’ pejabat lokal, banyak pula yang betul-betul mengabdi untuk kemajuan pendidikan. Mereka mengabdikan diri untuk mengajar belasan tahun, bahkan dengan upah yang tidak manusiawi.
Banyaknya guru honorer bisa dikarenakan instansi-instansi pendidikan seperti sekolah leluasa mengangkat guru, dengan alasan kekurangan guru. Kekurangan guru tersebut bisa juga terjadi akibat ketidak merataannya distribusi guru dimana kebanyakan menumpuk di perkotaan.
Meskipun honor guru sangat minim, namun peminatnya tetap saja banyak sehingga banyak sekolah yang menghabiskan 50-60 persen dana BOS untuk membayar gaji guru honorer. Selain itu honor yang diterima pun belum tentu cair setiap bulan.
Dahulu mungkin orang berprofesi sebagai guru memang karena adanya panggilan hati, untuk mengabdikan diri sebagai pengajar dan pendidik agar generasi bangsa kedepannya semakin maju. Tapi seiring berkembangnya zaman dan dengan adanya iming-iming kenaikan gaji guru dengan alasan agar kinerja semakin meningkat, maka meningkat pula ketertarikan masyarakat akan profesi ini.
Dan ketika dihadapi oleh kenyataan, saat penghasilan yang didapat tidak sesuai yang diharapkan, timbul permasalahan-permasalahan yang malah mencoreng nama baik guru seperti tidak sedikitnya guru yang menuntut kesejahteraan mereka dengan pendapatan gaji yang—mereka anggap—pantas. Apakah guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, melainkan pahlawan dengan banyak jasa? Apakah pengabdian dan jasa-jasa guru tidak lagi tak terhitung oleh apapun, melainkan terhitung dalam nominal rupiah?
Tetapi guru juga manusia biasa, yang memiliki kehidupan pribadi sendiri terlepas dari profesi yang dibawanya. Guru juga rakyat biasa, sama seperti yang lainnya, yang ingin mensejahterakan keluarganya dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.  Ada guru yang menikmati ‘hasil’ pengabdiannya dengan puas, ada juga yang harus bekerja lebih keras bahkan menyambi kerja ini-itu untuk ‘hasil’ yang mungkin hanya cukup memenuhi sedikit kebutuhan hidupnya.
Dalam permasalahan-permasalahan yang ada, terlebih mengenai pendapatan yang didapat sebagai guru, rasanya perlu akan kesadaran masing-masing. Guru haruslah kembali pada kodratnya sebagai pengajar dan pendidik tanpa pamrih, tidak menghitung pengabdiannya dengan kisaran rupiah. Begitu pula dengan pemerintah yang harusnya bisa mengerti kondisi guru. Karena guru juga perlu mencukupi kebutuhan hidupnya dan karena guru juga manusia biasa.



Referensi:
Harian Kompas: Distribusi Guru Bisa Antardaerah (23-02-2012)
Harian Kompas: Persoalan Guru Semrawut (05-03-2012)
Harian Kompas: Guru Honorer Membengkak (06-03-2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar