Call Us : ( +62 ) 877 544 21256, vtea_listafa (line)
Senin - Sabtu : 10.00 - 22.00

Malam Mingguan Nonton Ludruk

Sabtu (31/03) malam kemarin adalah pertama kalinya saya melihat pementasan Ludruk secara langsung, karena sejauh ini yang saya tonton adalah pementasan Ludruk yang sudah berformat VCD. Dan kesan pertama saya pada malam hari itu adalah meriah! Ketika saya tiba di Taman Krida Budaya, ternyata sudah banyak masyarakat sekitar yang memenuhi pendopo wisata ini. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga yang lanjut usia. Itu membuktikan bahwa kesenian asal Jawa Timur ini masih digemari masyarakat Kota Malang. Pendopo semakin padat dengan hadirnya para mahasiswa Fakultas Universitas Brawijaya dan para mahasiswa dari beberapa universitas lain yang ada di Malang. Sebelum masuk ke pendopo, kita mengisi daftar hadir yang ada. Beberapa saat setelah penonton menempati tempat yang telah disediakan, ada panitia yang membagikan kupon pengundian doorprize. 

Gelaran pada malam kemarin menghadirkan rombongan Ludruk “Lerok Anyar” dari Malang. Mengusung lakon Legenda Joko Berek (Sawunggaling), pementasan kali ini menceritakan tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu bertindak. Seorang pemimpin seharusnya bisa menganyomi masyarakatnya, menegakkan hukum dan keadilan, serta mendengarkan rakyatnya.  

Pementasan yang dimulai sekitar pukul 7 malam itu diawali dengan pementasan Tari Beskalan asal Malang. Tari ini dulunya dipentaskan pada saat upacara bedah bumi maupun peletakan batu pertama proyek-proyek dan selanjutnya tari ini dipentaskan sebagai ucapan selamat datang. Tarian yang menurut saya hampir mirip dengan tari ngremo ini konon berasal dari kata ‘bakalan’ yang dipentaskan sebelum acara ludruk dimulai, dimana tarian ini dipercaya berawal pada tahun 1930an saat kesenian Ludruk berkembang pesat dikawasan ini. 

Setelah Tari Beskalan selesai, kemudian giliran karawitan yang dihadirkan. Suaranya yang merdu membuat saya penasaran ‘siapa’ yang membawakannya. Dan rasa kagum saya semakin bertambah ketika tahu bahwa seorang gadis kecil lah yang membawakan karawitan tersebut. Bersyukur dan bangga juga ternyata dizaman yang katanya serba modern hingga anak kecil sudah pandai ‘break dance’ ini masih terdapat mutiara-mutiara yang mau mengusung kesenian tradisional. 

Setelah persembahan sekapur siri dan tari sembrono, kini acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pementasan Ludruk Lerok Anyar lakon Legenda Joko Berek (Sawunggaling) akhirnya dimulai. Ceritanya mengisahkan tentang Joko Berek yang pergi ke kota untuk mencari dan menemui ayah kandungnya. Setelah tiba di Kadipaten baru diketahuinya bahwa ayah Joko Berek adalah Adipati Jayengrono. Kemudian Adipati Jayengrono memberi tambahan nama padanya menjadi Joko Berek Sawunggaling. 

Singkat cerita adalah Sawunggaling berusaha untuk menjadi penerus ayahnya, namun usahanya selalu dijegal oleh orang-orang belanda dan kaki tangannya karena ketidaksukaan orang Belanda terhadap Adipati Jayengrono yang enggan bekerja sama dengan mereka. 

Dalam pementasan kali ini banyak pesan moral mengenai kepemimpinan, seperti untuk menjadi seorang pemimpin jangan sampai menghalalkan segala cara dimana lawan jadi kawan dan kawan jadi lawan. Serta jangan menjadi pemimpin yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, karena apa yang baik menurut dirinya sendiri (pemimpin) belum tentu baik untuk masyarakatnya. Untuk itu lah seorang pemimpin harus mau dan selalu mendengar aspirasi dari rakyatnya. 

Ludruk merupakan pertunjukan rakyat yang sifatnya cerita humoris tetapi memiliki nuansa perlawanan terhadap kekuasaan di masa penjajahan Belanda. Kisah-kisah semacam Legenda Joko Berek (Sawunggaling) adalah salah satu kisah heroisme rakyat Jawa Timur yang sebenarnya banyak pula kisah-kisah lain yang menarik untuk disimak.

Dengan pagelaran kesenian seperti ini diharapkan masyarakat bisa lebih mengenal dan mencintai kekayaan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Sehingga makin bangga kita terhadapa apa yang bangsa kita miliki dengan terus menjaga melestarikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar